Bagaimana rasa yang ada dalam hatimu?
begitu banyak pertanyaan dibenakku tentang kamu.
aku pernah berfikir untuk menyapamu. memberitahukan namaku padamu. agar ada aku difikiranmu.
jangan langsung percaya dengan apa yang kau dengar dan lihat. apalagi dengan rasa yang belum pasti.
rintik-rintik hujan mulai menetes. semakin lama semakin deras. aku menengadahkan kepalaku menatap awan kelabu, merasakan tetesan hujan dan angin dingin menerpa kulit wajahku. tak ingin ku pejamkan mata, karna aku tahu air yg tergenang dimataku pasti akan ikut terjatuh.
aku memeluk diriku sendiri, sambil menahan sesak dan tangis tersembunyi. aku benar-benar bangga pada diriku sendiri yang sangat pintar berakting. aku bertepuk tangan untuk diriku yang sangat pandai berdusta.
aku sangat piawai melakoni peranku sebagai gadis kuat dan selalu baik-baik saja.
terkadang aku muak pada diriku sendiri, muak pada tawa yg ku tunjukan, muak pada dusta yg ku katakan. dan muak pada semua yg terjadi padaku.
aku tak pernah baik-baik saja. aku terluka. terluka oleh keegoisan diriku sendiri.
hidupku hanya penuh sandiwara dan kebohongan yg ku rangkai sendiri. aku bahkan tak pernah tau, mana diriku yg sebenarnya. mana tawa yg tulus dan mana tawa yg menyedihkan? aku takut, karna aku mulai merasa kebas.
aku pernah mengatakan bahwa aku tak pernah berharap pada suatu hal yg tak bisa ku gapai, tp nyatanya aku selalu berharap.
aku berdusta, entah untuk apa.
aku bahkan tak pernah tau siapa orang-orang yg benar-benar aku cinta. siapa orang-orang yg benar-benar aku rindukan dan siapa orang-orang yg benar-benar aku butuhkan.
aku tak pernah mengerti, bagaimana cara menggunakan hatiku lagi.
-snt
aku tak pernah menyangka akan bertemu lagi denganmu. kau hadir bersama hujan yang saat itu tiba-tiba turun. aku tak pernah berharap pada hal-hal yg menurutku tak mungkin, karna aku takut untuk terluka.
saat pandangan matamu dan mataku bertemu, aku ingin menyapa namun kata-kata hallo itu tertahan ditenggorokanku. seperti air mata yang tertahan dimataku. mata teduhmu dinaungi oleh alis mata tegas dan mempesona. kau serupa malaikat hujan, indah namun hanya untuk ku kagumi.
bagimu aku hanya orang asing yg bahkan tak kau kenal namanya. yang bahkan tak terlihat dalam jarak pandangmu. namun bagiku kau adalah kebahagiaan.
tiba-tiba aku menyukai hujan dihari minggu itu. karna hari itu hujan membawa malaikatnya turun bersama.
aku tak berharap bertemu lagi denganmu. karena malaikat tak datang tiap saat. malaikat hanya untuk ku kagumi, bukan untuk ku miliki.
tawa dan senyummu telah terbingkai indah dalam memori otakku.
tuhan, jaga senyummu itu. jangan biarkan kesedihan terlukis diwajahnya.
-shinta
aku bukan orang yang piawai menunjukkan perasaanku. tak pandai melupakan dengan tanpa bekas. aku senang dekat denganmu, tapi aku takut. aku hanya terus membentengi diri. agar pertahanan hatiku tak goyah. agar aku tak jatuh lagi kedasar yang sama berkali kali. ya, aku seperti orang yang berdiri dipinggir jurang yang kapan pun bisa terjatuh.
aku lelah merasakan cinta yang tak ada ujung kebahagian. lelah merasakan harap yang tak pernah tersambut, seperti tangan yang terentang namun tak mendapat dekapan. aku terus memagari hati. agar tak jatuh cinta padamu lagi. agar tak meneteskan air mata lagi pada hal sama.
aku takut merasakan sakit lagi karna cinta yang tak bersambut. karna cinta yang tersangkut dalam mimpi yang tak nyata. aku tahu kau tak anggap aku lebih dari orang yang hanya kau kenal. bukan orang yang kau ingin jadikan orang yang lebih dari kenal. bukan orang yang membuatmu bersemangat untuk tidur agar bertemu dengannya dalam mimpi. bukan orang yang kau sebut namanya saat kau rindu.
shin-ta
Jalan setapak yang ku lalui tak pernah sama dengan yang kau lalui. Kita tak pernah berada dalam satu arah. Aku melihatmu, disana, dipersimpangan jalan yang ku lalui.
Aku menggapai-gapaimu. Ingin menjadikanmu milikku. Tapi tanganku tak mampu menjangkaumu. Kau terlalu jauh bahkan ketika kau ada didepanku.
Tuhan, terlalu serakah kah aku jika mengharapkannya?
Aku terus berjalan, menyusuri jalan yang bahkan aku tak tahu dimana ujungnya. Tak ku temukan satu celah pun untuk berada dijalan yang sama denganmu.
Tuhan, apakah aku memang tak ditakdirkan bersamanya?
Kau masih disana, dipersimpangan jalan itu. Kini, bahkan kau bersamanya. Berjalan beriringan dengan tawa yang melukis wajahmu. Dan kau semakin jauh dari jarak pandangku.
Namun, saat aku menutup mata. Aku bisa melihatmu. Dalam dunia khayalku. Dengan skenario yang ku rancang sendiri. Kita bersama, dan tawamu jadi milikku. Kita bahagia.
Tuhan, biarkan aku bermimpi.
-shinta