jangan langsung percaya dengan apa yang kau dengar dan lihat. apalagi dengan rasa yang belum pasti.
13 Februari 2015
12 Februari 2015
kau dan senja
senja sudah tiada
namun mengapa engkau masih tak beranjak?
terpaku dalam hening
hanya ranting-ranting kecil yang bernyanyi
terkena hembusan angin yang berlari
malam ini,
hanya bulan yang jadi ratu
karna bintang takut untuk nampak
ia bersembunyi dalam awan pekat malam
yang berlalu-lalang dengan tanpa malu-malu
apa tak kau temukan dia disana?
hingga kau tak mau beralih
jika saja kau mau mencoba
akan aku ajak kau menembus langit
mencari mentari yang tersembunyi
berlarilah jika kau ingin
aku akan mengejarmu
hingga kau tak mampu lagi berlari
bahkan jika kau berjalan
aku akan berlari untukmu
aku takkan ada didepanmu
aku bahkan tak berniat ada dibelakangmu
aku akan disampingmu
hingga kau lelah dan bersandar padaku
bersandarlah,
sampai malam beranjak
biarkan aku menjadi tamengmu
agar angin tak mampu mengusikmu
hingga kau dapat kembali berlari
mengejar senja yang kau rindukan
27 Oktober 2014
Bulan
kau takkan mencari gelap
bila telah kau temukan terang
kau kan bertumpu dalam siang
memuja matahari
bulan takkan terlihat dalam terang
terendam oleh sang raja
tersingkir oleh cahaya
kau takkan ingin bulan jika ada sang matahari
yang memancar
bulan akan tetap kalah oleh matahari
ia takkan memancar
dalam siang yang menghujam
dalam terang yang kau suka
ia hanya terlihat
dalam pekat yang kau lupa
-shinta-
cinta dalam diam
terdiam bagai patung
dalam keheningan senja yang menggantung
tak bergerak bagai terekat
memandang tak menyapa
hanya angin yang bersuara
tak terlihat bukan berarti tak ada
boleh jadi itu terselubung dalam kepekatan
yang menikam semakin dalam
bagai lumpur yang menenggelamkan
walau tersimpan rapat dalam kebisuan
tertutup oleh keheningan
tak teraba oleh rasa
namun cinta tetaplah cinta
-shinta-
22 Oktober 2014
Senja yang telah berlalu
Senja tengah
menaungi langit, gelap pun menerobos cahaya perlahan. Bulan menggeser sang raja
dari singgasananya. Namun kau masih tak berpindah tempat. Pandanganmu masih tak
teralihkan. Kau berdiam menatap lampau dan menepis kini. aku pun terpaku dengan
uluran tangan tak bersambut. menggenggam sepi yang teraih. bagaimana aku mengibaratkan?
Tentang sakitnya cinta yang terabaikan. Tentang hancurnya hati yang teracuhkan.
Aku tak bisa menuliskan
namaku dihatimu. Karna telah ada nama yang menempatinya dengan huruf tebal yang
merentangku. Aku ingin menggenggammu, namun itu tak cukup kuat untuk menarikmu
keluar. Kau terlalu terpaku pada senja yang telah berlalu dan terlalu takut
pada gelap yang berkabut.
Tak ada celah
untukku mendekat. Langkahku terlumpuhkan oleh kebisuanmu. Tak ada tempat
untukku tinggal. Harapku terhempaskan oleh diam mu yang tak bertepi. Anganku terbang
bersama kata cinta yang tertahan oleh air mata.
Aku ingin
membawamu menjelejah gelap bersamaku. Dengan tangan yang saling menggenggam. Meninggalkan
takutmu bersama angin yang berhembus. Melupakan senja yang telah berlalu dan
menggantinya dengan titik-titik cahaya dalam gelap yang tak kau sadari. Yang begitu
indah melebihi senjamu.
-shinta
09 September 2014
Bahagia dan Munafik
Saat hati terluka bagaimana
mungkin tidak terasa sakit?
Walau hanya goresan kecil yang
tak terlihat.
Bagaimana mungkin tak apa apa
saat hati merasa sakit?
Walau ia tak menunjukannya.
Aku masih tak mengerti akan
definisi cinta yang bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia walau
bersama orang lain.
Bahagia?.......
Apa kita bahagia jika hati kita
terluka?
Apa kita bahagia saat hati terasa
sesak dan sakit?
Apa itu yang dinamakan bahagia?
Apa itu definisi dari kata
bahagia?
Lalu apa bedanya bahagia dan
munafik?.......
Apa itu bukan munafik jika kita
berdusta pada diri kita sendiri?
Apa itu bukan munafik jika kita
berkata baik-baik saja padahal itu sangat menyakitkan?
Apa itu bukan munafik jika kita
tertawa padahal sangat ingin menangis?
bagaimana bisa hal seperti itu
dikatakan bahagia?......
Tulus -- Sewindu
Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku pendam sejak lama
Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu
Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis merayumu
Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu
Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Read more: Tulus - Sewindu Lyrics | MetroLyrics
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku pendam sejak lama
Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu
Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis merayumu
Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu
Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Read more: Tulus - Sewindu Lyrics | MetroLyrics
Langganan:
Postingan (Atom)