13 Februari 2015

Cara Merias Wajah Berminyak

Merias wajah berminyak memang merepotkan. Tidak hanya untuk menyamarkan kelebihan minyak, tapi juga membuat agar riasan tetap menempel awet pada wajah. Untuk itu, coba ikuti tips berikut ini:
Gunakan Make Up Primer
Bersihkan wajah lebih dulu, kemudian oleskan make up primer antikilap dan bebas minyak lebih dulu agar riasan tahan lama. Paling tidak untuk area T –dahi, hidung, dan dagu-. Make up primer sebaiknya juga dioleskan pada kelopak mata sebagai dasar make up untuk menyempurnakan riasan eyeshadow dan eyeliner.
Gunakan Bedak Secukupnya
Aplikasikasikan bedak secukupnya saja. Jangan terlalu tebal, karena malah akan membuat pori-pori kulit mengeluarkan minyak lebih banyak. Jika telanjur menggunakan bedak tebal, basahi spon, kemudian ulaskan pada bagian yang diberi bedak tebal tadi.
Pilih Produk Bebas Minyak
Gunakan foundation dan blush on yang noncomedogenic dan bebas minyak, sehingga tidak akan menyumbat pori-pori. Gunakan juga cleanser dan toner dengan campuran asa, glikolat untuk mengurangi kelebihan minyak.
Gunakan Produk Tahan Lama
Gunakan produk yang waterproof, water resistant atau long lasting agar riasan awet menempel pada wajah seharian. Tapi, Anda juga harus rajin membersihkan wajah setelahnya.
Gunakan Pelembab
Gunakan pelembab ringan saja untuk melembabkan tanpa membuat wajah kelihatan berminyak. Jangan lupa gunakan tabir surya, tapi pilih yang bebas minyak. Setelah mengoleskan tabir surya, ambil tisu dan tempelkan pada kulit wajah untuk menyerap kelebihan minyak. Setelah itu, baru oleskan alas bedak.
Selalu Sediakan Kertas Minyak
Meski sudah ber-make up sempurna di pagi hari, pada siang hari kulit wajah berminyak tetap akan terlihat mengkilat pada siang hari. Karena itu, jangan lupa selalu membawa kertas minyak untuk menyerap kelebihan minyak pada wajah.
Caranya, tekankan kertas pada bagian kulit wajah yang berminyak. Jangan menggosoknya, karena akan menghapus riasan. (heni/bbs/nyata/jpnn)

sumber : http://www.jpnn.com/read/2015/02/13/287234/Cara-Merias-Wajah-Berminyak

12 Februari 2015

kau dan senja

senja sudah tiada
namun mengapa engkau masih tak beranjak?
terpaku dalam hening
hanya ranting-ranting kecil yang bernyanyi
terkena hembusan angin yang berlari

malam ini,
hanya bulan yang jadi ratu
karna bintang takut untuk nampak
ia bersembunyi dalam awan pekat malam
yang berlalu-lalang dengan tanpa malu-malu

apa tak kau temukan dia disana?
hingga kau tak mau beralih
jika saja kau mau mencoba
akan aku ajak kau menembus langit
mencari mentari yang tersembunyi

berlarilah jika kau ingin
aku akan mengejarmu 
hingga kau tak mampu lagi berlari
bahkan jika kau berjalan
aku akan berlari untukmu

aku takkan ada didepanmu
aku bahkan tak berniat ada dibelakangmu
aku akan disampingmu
hingga kau lelah dan bersandar padaku

bersandarlah,
sampai malam beranjak
biarkan aku menjadi tamengmu
agar angin tak mampu mengusikmu
hingga kau dapat kembali berlari
mengejar senja yang kau rindukan



27 Oktober 2014

Bulan

kau takkan mencari gelap
bila telah kau temukan terang
kau kan bertumpu dalam siang
memuja matahari

bulan takkan terlihat dalam terang
terendam oleh sang raja
tersingkir oleh cahaya 
kau takkan ingin bulan jika ada sang matahari
yang memancar 

bulan akan tetap kalah oleh matahari
ia takkan memancar
dalam siang yang menghujam
dalam terang yang kau suka
ia hanya terlihat
dalam pekat yang kau lupa

-shinta-

cinta dalam diam

terdiam bagai patung
dalam keheningan senja yang menggantung
tak bergerak bagai terekat
memandang tak menyapa
hanya angin yang bersuara

tak terlihat bukan berarti tak ada
boleh jadi itu terselubung dalam kepekatan
yang menikam semakin dalam
bagai lumpur yang menenggelamkan

walau tersimpan rapat dalam kebisuan
tertutup oleh keheningan
tak teraba oleh rasa
namun cinta tetaplah cinta


-shinta-

22 Oktober 2014

Senja yang telah berlalu



Senja tengah menaungi langit, gelap pun menerobos cahaya perlahan. Bulan menggeser sang raja dari singgasananya. Namun kau masih tak berpindah tempat. Pandanganmu masih tak teralihkan. Kau berdiam menatap lampau dan menepis kini. aku pun terpaku dengan uluran tangan tak bersambut. menggenggam sepi yang teraih. bagaimana aku mengibaratkan? Tentang sakitnya cinta yang terabaikan. Tentang hancurnya hati yang teracuhkan.
Aku tak bisa menuliskan namaku dihatimu. Karna telah ada nama yang menempatinya dengan huruf tebal yang merentangku. Aku ingin menggenggammu, namun itu tak cukup kuat untuk menarikmu keluar. Kau terlalu terpaku pada senja yang telah berlalu dan terlalu takut pada gelap yang berkabut.
Tak ada celah untukku mendekat. Langkahku terlumpuhkan oleh kebisuanmu. Tak ada tempat untukku tinggal. Harapku terhempaskan oleh diam mu yang tak bertepi. Anganku terbang bersama kata cinta yang tertahan oleh air mata.
Aku ingin membawamu menjelejah gelap bersamaku. Dengan tangan yang saling menggenggam. Meninggalkan takutmu bersama angin yang berhembus. Melupakan senja yang telah berlalu dan menggantinya dengan titik-titik cahaya dalam gelap yang tak kau sadari. Yang begitu indah melebihi senjamu.




-shinta

09 September 2014

Bahagia dan Munafik


Saat hati terluka bagaimana mungkin tidak terasa sakit?
Walau hanya goresan kecil yang tak terlihat.
Bagaimana mungkin tak apa apa saat hati merasa sakit?
Walau ia tak menunjukannya.
Aku masih tak mengerti akan definisi cinta yang bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia walau bersama orang lain.

Bahagia?.......

Apa kita bahagia jika hati kita terluka?
Apa kita bahagia saat hati terasa sesak dan sakit?
Apa itu yang dinamakan bahagia?
Apa itu definisi dari kata bahagia?

Lalu apa bedanya bahagia dan munafik?.......

Apa itu bukan munafik jika kita berdusta pada diri kita sendiri?
Apa itu bukan munafik jika kita berkata baik-baik saja padahal itu sangat menyakitkan?
Apa itu bukan munafik jika kita tertawa padahal sangat ingin menangis?

bagaimana bisa hal seperti itu dikatakan bahagia?......

Tulus -- Sewindu

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku pendam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis merayumu

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu


Read more: Tulus - Sewindu Lyrics | MetroLyrics